PAGELARAN EVALUASI PEWARISAN SENI KEPESINDENAN JAWA BARAT



Urgensi Pewarisan Budaya Tradisional Pemerintan Provinsi Jawa Barat mengakui bahwa Kabupaten Subang merupakan salah satu daerah yang menyimpan budaya yang patut dikembangkan dan berpotensi menjadi daya tarik wisata baik dalam negeri mau mancanagara. Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Perfilman dan Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat, H. Zaenudin pada sambutan "Acara Penutupan Pengembangan Zona Seni Tradisi/Klasik Jawa Barat" di Padepokan Mimin Mintarsih Dusun Pasir Ceri Kelurahan Sukamelang Subang. Selanjutnya, Zaenudin menyampaikan bahwa Padepokan Mimin Mintarsih merupakan salah satu padepokan dari 15 padepokan yang menerima bantuan dari Gubernur Jawa Barat. Berdirinya Padepokan Mimin Mintarsih adalah salah satu upaya pelestarian budaya melalui pelatihan kepada yang berminat dan kegiatan pewarisan. Pewarisan seni, kata Zaenudin bukan semata untuk melatih supaya bisa tetapi lebih pada upaya menurunkan hal-hal yang bersifat "talent" kepada yang dibina. Karena ini merupakan program Provinsi Jabar, maka pada kegiatan pembinaan ini pihak Dinas Parbud Jabar akan terus melakukan monitoring. "Kami tidak akan membiarkan saja pada pembinaan ini. Walaupun telah ditutup, pembinaan akan dimonitor terus, dipantau perkembangannya," ujar Zaenudin. Selain di Subang sebelumnya ada kegiatan yang sama yaitu di Karawang Kendang Suwanda. Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Budparpora Kabupaten Subang, Drs. Mulyana, M.Si Menyampaikan terima kasih atas apresiasi dan perhatian pemerintah Provinsi Jabar serta respon positif dari seniman Subang. Pagelaran Evaluasi Pewarisan Seni Kepesindenan Jawa Barat di Kabupaten Subang yang diantaranya dilaksanakan oleh Padepokan Mimin Mintarsih. Pada kesempatan itu Zainudin menyerahkan sertifikat kepada 16 seniwati yang mendapatkan pewarisan kepesindenan dibawah binaan Padepokan Mimin Mintarsih. Kemudian dilangsungkan penampilan sebagai evaluasi kegiatan Pewarisan kepesindenan oleh 16 pewaris yang dipimpin langsung oleh Mimin Mintarsih alias Mimin Aminah yang disampaikan secara bergiliran satu per satu. Selama pentas para pewaris banyak penonton seolah terhipnotis. Sehingga banyak diantara para penonton merasa perlu untuk ”ngajimatan” dengan “sawer” selama pesinden melantunkan “haleuang”-nya.